Hikayat Puteri Pelangi Dura

Julai 10, 2012 at 12:39 pm 3 comments

Alkisah maka tersebut lah perkataan gegak gempita. Terang cuaca menjadi kelam-kabut di bumi Dar al-Jampi.

Kalakian tersebut lah pula bersipongang berurita itu yang payah dibuntong lagi. Lalu ia belayar menyeberangi lahut.

Syahadan datanglah berkhabar berurita itu melayang hinggap di tanah besar. Maka tahu lah semua kalian. Lalu dipukul canang, berkelong usung lalu mengaruk lah masing-masing dengan desas-desusnya. Mangkin sehari mangkin bertambah-tambah banyak watak cerita.

Hatta tujuh malam tidur Sang Adipati Kecil mencari mimpi yang baik. Tiada dapat mimpi yang baik. Sering dimimpikan yang ngeri dan dibayangi seteru ketatnya Opu Daeng Molek.

Antara tidur dengan jaga, berdengung-dengung di telinga Sang Adipati Kecil suatu sahut yang berbunyi:

“Today, this is his personal problem. Why drag in so many people? It’s a simple question. If yes, say yes. If no, then say no. Why does he have to avoid the issue every day, get so excited and be so jumpy?”

[Oooops, 'Cut'! Ni silap bahasa dan salah zaman ... Kena 'Take Two' kot.]

Dengung di telinga Sang Adipati Kecil itu bukan buat seketika. Ia berdegar-degar.

“Kalau ‘ya’, katakan ya. Kalau bukan, katakan saja ianya memang tidak benar. Kenapa hendak diseret pihak lain masuk cerita?”

Hatta tujuh hari tujuh malam Sang Adipati Kecil mandi tak basah, tidur tak lena kerna asyik terdengar desis berlegar di awang-awang. Kemudian sampai lah berurita itu delapan hari.

Arakian berkumpul lah segala pangeran-pangeran serta penggawa-penggawa Sang Adipati Kecil di balairong seri. Sekaliannya itu masuk lalu lah menjunjung duli.

Apa bicara jamu-jamu yang menghadap Sang Adipati Kecil dan apa yang diputuskan singgahsana?

Untuk mengetahui cerita selanjutnya, baca penglipurlara di SINI

Puteri Pelangi dan penangan beti-beti

Ooo, Santubong puteri
Bertenun kain … malam
Ooo, Sejinjang puteri
Menumbuk padi … siang

Satu harinya duak kelahi
Beranuk-anuk sik henti-henti
Sorang madah diri bagus agi
Sorang sik kalah walau sampai ke mati

Udah lejuknya duak kelahi
Lalu bertukuknya duak puteri
Sejinjang mengayun aluk ke pipi
Tebik Santubong sampai gituk ari

Tapi Santubong membalas juak
Lalu ditikam batang belida
Hingga terkena Sejinjang kepala
Lalu bertabur jadi Pulo Kerak

Kisah Santubong, kisah Sejinjang
Asal berkawan jadi musuhan
Kini tok tinggal jadi kenangan
Pake ingatan sepanjang zaman

***   ***   ***

Anda mungkin juga meminati:

How Penang created the Rainbow Making Machine

About these ads

Entry filed under: Muzik. Tags: .

(Pictures) Debate 2.0 @ YouTube: Guan Eng in ‘high class’ action Ong Kian Ming mendakwa pencerobohan rumahnya ‘bermotifkan politik’

3 Komen Add your own

  • 1. Hatihitam  |  Julai 10, 2012 at 2:05 pm

    Sang Puteri Helen Ratnasari,

    Sesungguhnya, hamba amat terpersona pada mendengar hikayat Hikayat Puteri Pelangi Dura sama Sang Adipati Kecil itu. Sudah sekian banyak purnama dan zaman berlalu, baru sekarang hamba dapat menikmati lengguk ceritera purba.

    Barang diingatkan, Tuan Puteri Helen Ratnasari harus langsung berceritera agar hamba dapat berhibur sambil mendengar perkhabaran berita yang mengasyikan.

    Balas
  • 2. Joe  |  Julai 10, 2012 at 2:06 pm

    An epic of similar scale to Ramayana. Though we may be tempted to label the Malaccan a hanuman, I think he is more Kumbhakarna or Indrajit in terms of “big picture” significance…

    Balas
  • 3. golokru  |  Julai 10, 2012 at 4:35 pm

    hehehe kalau padi katakan padi,
    tidak saya tertampi-tampi…..

    Balas

Dijemput memberi komen anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Tukar )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Tukar )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Tukar )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


The Lion Sleeps Tonight

KARPAL SINGH

Petty Tyranny of Madame Speaker

They always call Utusan

the “Umno mouthpiece”

Dear readers,

If you like my writing, please introduce my blog to 3 of your friends. Thank you.

Helen Ang

CLICK ON IMAGE TO READ

'Condolence' in Oik's blog

'Mereka perlu disekolahkan' in Sarah's blog

'10 alleged ghost sightings' in Alizul's blog

'The Calovinia' in Anisah Afifah's blog

Kiriman Terbaru

Pengunjung

  • 3,753,138 hits

Kalender

Julai 2012
I S R K J S A
« Jun   Ogo »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Arkib

Suapan


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 303 other followers

%d bloggers like this: